Jumat, 02 Agustus 2013

Operasi Babut Mabur


Atol Diego Garcia dilihat dari udara. Pulau ini dipilih sebagai tempat transit untuk mengisi bahan bakar guna menghindari wilayah udara India yang mungkin membahayakan misi.


 Diego Garcia merupakan gugusan karang di Samudera Hindia yang dimiliki oleh Inggris namun dioperasikan oleh Amerika sebagai pangkalan militer. Dengan saluran intelijenyang hebat, perizinan diperoleh dari keduanegara.
 
 
Ribuan senapan AK-47 yang dikirim Pemerintah Indonesia, kemudian menjadi bagian tak terpisahkan dalam perjalanan Mujahidin hingga berhasil memukul mundur Soviet. Selain Indonesia, Malaysia juga mengirimkan senjata namun melalui jaringan di Amerika
 
Adakah hubungan antara Indonesia dengan gerakan Mujahidin di Afghanistan? Tanpa diketahui banyak orang, Pemerintah RI pernah mengirim ribuan senapan AK-47 untuk mendukung gerilyawan Mujahidin dalam menghadapi mesin perang Uni Soviet. 
 
Awal tahun 1970-an dunia dan terutama negara - negara Asia Tenggara khususnya lagi Asean, dikejutkan dengan jatuhnya Vietnam Selatan ke tangan Vietnam Utara menyusul terusirnya pasukan Amerika dari daratan Vietnam. Sebagai sesama negara Asean timbul kekhawatiran akan meluasnya pengaruh ideologi komunis di Asia Tenggara, yang secara langsung sekaligus membentuk adanya musuh bersama negara-negara Asean yang kemudian membentuk persepsi yang sama untuk bersama-sama menghadapinya.

Situasi dunia kala itu masih dilanda era Perang Dingin antara Amerika Serikat plus negara - negara Barat (NATO) menghadapi Uni Soviet dengan negara - negara Timur (Pakta Warsawa). Di tengah suasana yang penuh ketegangan ini, diselingi dengan gejolak - gejolak lokal dalam rangka perebutan wilayah pengaruh kekuasaan.
 
Menjelang akhir 1970-an, dunia bebas (Non-Blok) dikejutkan dengan invasi besar - besaran kekuatan militer Uni Soviet ke Afghanistan. Pasukan pertama yang dikirim Soviet berasal dari 40th Army yang mulai memasuki Afghanistan pada 24 Desember 1979. Kedatangan pasukan Soviet ini segera mendapat reaksi keras dari rakyat Afghanistan, atau lebih tepatnya gerilyawan Mujahidin yang berjuang menghadapi Republik Demokratik Afghanistan beraliran Marxist - Leninist dan mendapat dukungan Soviet.
 
Perlawanan rakyat Afghanistan dalam melawan Soviet dilaksanakan dengan taktik perang gerilya mengandalkan jiwa turun menurun bangsa pejuang. Penugasaan atas medan pegunungan yang berbatu dan bergua menjadi kelebihan para pejuang ini. Para pejuang yang kemudian menyebut dirinya Mujahidin ini menarik simpati negara bebas (khususnya Islam) untuk membantu dengan mengirim sukarelawan dan tentunya pula persenjataan.

Sementara Amerika Serikat yang baru saja terpukul mundur dari Vietnam nyaris tidak berdaya dan khawatir akan terjadi konfrontasi langsung mengarah kepada perang terbuka. Sehingga tidak berani melibatkan pasukan daratnya membantu para pejuang di Afghanistan. Dalam keadaan seperti ini, melalui Pakistan, Amerika memberikan bantuan persenjataan berupa peluru kendali antipesawat (stinger) untuk menembak helikopter tempur dan tank Uni Soviet yang ditakuti.

Dengan sejumlah bekal persenjataan bantuan dan AS tersebut, pejuang Mujahidin bertempur mati - matian memukul mundur pasukan Soviet yang jelas - jelas lebih terlatih dan dipersenjatai lebih baik. Namun bukan berarti Mujahidin sama sekali nol besar soal kemiliteran. Sejumlah besar pejuang Mujahidin dilatih secara khusus oleh CIA pada masa pemerintahan Presiden Jimmy Carter. CIA juga memasok senjata, amunisi, dan peralatan.

Pihak intelijen AS juga menghimbau dan melobi negara - negara dunia bebas serta Asean untuk membantu persenjataan para pejuang Mujahidin dan menyediakan diri menjadi “koordinator”. Himbauan ini dengan cepat ditanggapi sejumlah negara. Beberapa negara anggota Asean melalui AS mendahului membantu dengan mengirimkan persenjataan ringan guna mempersenjatai para Mujahidin. Bantuan perkuatan juga mengalir dalam bentuk sukarelawan dari Arab Saudi, Aljazair, Yaman, Pakistan, Filipina dan Indonesia.

Operasi Babut Mabur

Bagaimana reaksi Indonesia? “Kalau kita bisa (lakukan) sendiri, kenapa harus lewat Amerika,” pikir Letjen TNI L.B. Moerdani, Kepala Badan Intelijen Strategis ABRI, seperti ditirukan Marsda (Pur) Teddy Rusdy. Akhirnya pimpinan intelijen ABRI dengan persetujuan pimpinan nasional, sepakat membantu para pejuang secara tertutup dan langsung tanpa melalui perantara AS. Maka dipersiapkanlah suatu operasi intelijen yang diberi sandi Flying Carpets (Permadani Terbang) atau disebut juga Babut Mabur. “Operasi ini sangat tertutup sehingga hanya diketahui oleh sedikit orang,” ujar Teddy lagi.
 
Jaringan intelijen ABRI mulai bekerja membuka saluran komunikasi dengan mitranya di luar negeri. Tanggal 18 Februari 1981 di Islamabad, Pakistan, diadakan pertemuan khusus antara L.B. Moerdani yang didampingi seorang perwira menengah TNI AU yang merupakan salah satu perwira staf BAIS dengan jabatan Paban VIII Staf Intel Hankam, Kolonel Udara Teddy Rusdy dengan pimpinan intelijen Pakistan (ISI, Inter-Services Intelligence). Pertemuan ini pada intinya membicarakan kesediaan Indonesia membantu dalam hal logistik, obat - obatan, dan persenjataan. Pimpinan intelijen ABRI menjelaskan bahwa jajaran ABRI masih memiliki banyak persenjataan yang bisa untuk melengkapi dua satuan setingkat batalion infanteri. Saat itu juga dijelaskan bahwa Indonesia masih menyimpan banyak persenjataan buatan Uni Soviet yang digunakan saat persiapan Tri Komando Rakyat (Trikora) dalam Operasi Pembebasan Irian Barat.

Selain menyampaikan kesediaan Indonesia memberikan bantuan, poin kedua yang tak kalah pentingnya adalah meminta peranan intelijen Pakistan membantu kelancaran misi ini. Meliputi membantu mengeluarkan izin terbang lintas (flight clearance) dan izin mendarat di Rawalpindi bagi pesawat Indonesia. Pakistan juga diminta menyediakan truk serta pengawalan sampai penyerahan ke pihak pejuang Mujahidin di Kota Badaber, sekitar 24 km dari Peshawar kota perbatasan di Pakistan. Akhirnya kedua pejabat intelijen inipun bersalaman, menandakan bahwa Pakistan siap membantu Indonesia.

Sekembalinya ke Jakarta, tim khusus yang dibentuk mulai menyusun rencana operasi Permadani Terbang secara sangat tertutup. Pertama, disiapkan rencana penerbangan dari Lanud Halim Perdanakusuma menuju sasaran (Rawalpindi) dengan menggunakan pesawat Boeing B707 milik Pertamina yang dioperasikan oleh Pelita Air Service. Untuk kesuksesan misi, dipilihlah awak yang sudah terlatih dalam melaksanakan operasi penerbangan intelijen. Mereka bertiga, yaitu Capt Arifin, Capt Abdullah, dan Capt Danur. Tim juga menyusun rencana penerbangan (flight plan) dengan beberapa batasan.

Untuk mendukung rencana ini, operasi penerbangan diberikan “cover” operasi kemanusiaan dengan membawa bantuan berupa obat - obatan untuk para korban peperangan di Afghanistan. Kemudian disusun rute penerbangan dengan rencana alternatif darurat menghindari wilayah udara India yang dinilai sebagai tidak bersahabat dengan Pakistan dan sebaliknya bersahabat dengan Uni Soviet. Selanjutnya, disusun pula rute penerbangan yang paling aman dari segi intelijen yakni melalui Samudera Hindia. Namun karena fakta keamanan terbang dan masalah logistik, diperlukan satu kali pendaratan untuk mengisi bahan bakar; dan yang paling ideal adalah sebuah technical landing di Pulau Diego Garcia, yaitu sebuah kepulauan atol di Samudera Hindia milik Inggris namun dioperasikan oleh Amerika Serikat untuk mendukung logistik Armada Ke-6 AL AS dalam mengawasi kawasan Samudera Hindia. Untuk itu diperlukan pendekatan ganda baik kepada intelijen Inggris guna mendapatkan izin mendarat dan dengan intelijen AS sebagai “penguasa” Diego Garcia.

Jarak tempuh garis lurus terpendek dari Jakarta ke Rawalpindi sekitar 5.400 mil laut, namun sepertiga perjalanan harus melintasi wilayah udara India. Karena itulah akhirnya dipilih rute penerbangan Jakarta - Diego Garcia di Samudera Hindia dengan jarak 3.000 mil laut dan dilanjutkan Diego Garcia - Rawalpindi di Pakistan utara sejauh 3.000 mil laut lagi. Alhasil total jarak yang harus ditempuh bertamabah 600 mil laut dengan total 6.000 mil laut.

Kumpulkan Senjata

Menurut catatan Mabes ABRI, persenjataan buatan Uni Soviet di lingkungan ABRI tersebar di satuan - satuan TNI AU dan AD. Tim sudah menyiapkan langkah langkah untuk mengumpulkan dan kemudian mengondisikan agar senjata ini aman untuk dikirim. Melalui sebuah surat perintah, semua senjata ini dikumpulkan untuk kemudian didata. Memang setelah terkumpul dan dihitung, senjata ini bisa digunakan untuk melengkapi dua batalion infanteri, seperti yang dijanjikan LB Moerdani kepada mitra Pakistan-nya. Senjata - senjata ini lalu dinilai satu persatu untuk melihat serviceability-nya. Apakah masih berfungsi dengan baik atau tidak.

Tahap selanjutnya yang melelahkan adalah menghapus semua nomor seri (serial number) setiap pucuk senjata guna menghindari identitas pemilik awal. Suatu kegiatan yang sungguh menghabiskan waktu dan tenaga demi suksesnya operasi intelijen. Kira-kira empat bulan kemudian sejak operasi Permadani Terbang digulirkan, pada akhir Juni dinyatakan bahwa seluruh persenjataan telah berhasil dikerok nomor serinya dan saat itu terkumpul di gudang khusus yang disiapkan pihak intelijen di Lanud Halim Perdanakusuma. Senjata yang berhasil dikumpulkan terdiri dari ribuan senapan serbu AK-47, senjata berat STTB (senjata tanpa tolak balik), dan mortir. Semuanya dimasukan ke dalam peti - peti dengan tanda “palang merah”, digabung dengan bantuan berupa selimut dan obat - obatan.
 
Rencana penerbangan telah disusun dengan tujuh awak terpilih terdiri dari tiga captain pilot, dua flight engineer, dan dua cargo officers. Izin pendaratan teknis dari Inggris dan AS telah diterima. Izin terbang lintas dan izin mendarat di Rawalpindi dari Pakistan juga sudah diterima, termasuk kesiapan 20 truk untuk mengangkut bantuan dari bandara Rawalpindi ke Badaber di Afghanistan. “Tidak mudah meminta izin ke Inggris dan Amerika, namun karena jaringan intelijen Indonesia saat itu sangat bagus, izin pun akhirnya mereka keluarkan,” jelas Teddy sambil menambah bahwa nama besar LB Moerdani betul - betul jadi jaminan saat itu.

Untuk mendukung operasi di darat, telah disiapkan dua perwira menengah BAIS dilengkapi peralatan Alkomsus (Alat Komunikasi Khusus). Salah satu dari perwira ini berasal dari pasukan khusus. Kantor kedutaan Indonesia di Islamabad, Pakistan, termasuk atase pertahanan di KBRI Kolonel Kay Harjanto, tidak dilibatkan untuk menghiridari kemungkinan terjadinya skandal diplomatik apabila pelaksanaan operasi bocor dan gagal.
Soal perwira penghubung ini seperti diceritakan Teddy, sengaja dipilihnya karena selain sedang penugasan di BAIS, dia adalah perwira yang menonjol dan berasal dari satuan elite. “Ketika Pak Benny tanya saya, siapa yang dipercaya, saya langsung sebut nama dia,” kata Teddy.

Ada satu kejadian yang nyaris membuat cover si perwira terungkap. Suatu pagi di hotel tempatnya menginap, perwira yang hobi olahraga ini melakukan senam militer. Hanya spontanitas tanpa maksud apa-apa, sebuah rutinitas yang dijalaninya puluhan tahun. Tanpa disadarinya seseorang menghampirinya sambil berucap, “Anda seorang tentara ya.” Kaget menerima pertanyaan, perwira ini hanya bersungut - sungut sambil membalas bahwa gerakan senam yang dia lakukan hanya berdasarkan kesukaann saja. “Saya bukan tentara,” ujarnya. Perwira ini diberangkatkan seorang diri dari Jakarta sambil membawa Alkomsus.

Pukul 20.00 Wib, 18 Juli 1981, dalam kesunyian malam, iring iringan truk keluar dari gudang khusus Pusat Intelijen Strategis memasuki Lanud Halim Perdanakusuma. Truk - truk ini berjalan pasti menuju titik bongkar. Setelah merapat, membongkar, dan memindahkan muatan berupa peti - peti bertanda palang merah ke dalam B707 yang telah dilepas semua kursinya sehingga menjadi pesawat kargo. Pukul 4 pagi tanggal 19 Juli 1981, semua muatan telah tertata rapi di sepanjang fuselage B707. Pesawat lepas landas ke arah barat menuju lautan bebas Samudera Hindia dengan sasaran kepulauan atol Diego Garcia, pangkalan logistik Armada ke-6 AL AS.

Sesuai prosedur standar yang diatur dalam dunia penerbangan internasional oleh ICAO, pilot dan kopilot tetap melapor di setiap Flight Information Region (FIR). Pimpinan operasi yang ikut dalam penerbangan mulai membuka hubungan melalui Alkomsus dengan pimpinan intelijen ABRI di Jakarta dan anggota yang ditugaskan di Rawalpindi. Dengan kata lain terjadi komunikasi segitiga di antara ketiga pelaku utama di balik operasi ini. Tugas anggota khusus di Rawalpindi ini adalah secara tertutup melaporkan dan berkoordinasi dengan pimpinan intelijen Pakistan di Rawalpindi guna menyiapkan reception party petugas penerimaan dengan menyiapkan kendaraan truk dan crane yang diperlukan untuk memindahkan muatan dari pesawat ke dalam truk yang sudah disiapkan.

Setelah kurang lebih tujuh jam penerbangan, pesawat mulai membuka hubungan radio dengan Diego Garcia seraya meminta izin pendaratan (technical landing). Pesawat mendarat mulus dan dipandu menuju special apron untuk mendapatkan pengisian bahan bakar. Kecuali dua loadmaster dan seorang engineer yang akan mengawasi pelaksanaan pengisian bahan bakar, pimpinan operasi bersama para pilot dan awak pesawat lainnya dijemput petugas dari US Marine ke mess perwira untuk makan siang dan istirahat.

Diego Garcia adalah suatu gugusan kepulauan karang (atol) di Samudera Hindia, terletak sangat strategis untuk mengawasi lalu lintas kapal di Samudera Hindia meliputi kawasan Asia Tengah, Timur Tengah dan pantai Barat Afrika. Kecuali letaknya yang memiliki titik strategis secara militer, Diego Garcia adalah kepulauan yang tandus sehingga seluruh kebutuhan kehidupan harus dipasok dari luar. Sebagai tempat singgah kapal perang Armada ke-6 AL AS, Diego Garcia adalah tempat penimbunan logistik pendukung Armada baik bagi kapal (perawatan) maupun awak kapalnya untuk rest and recreation (R&R).

Bentuk bangunannya sangat fungsional seperti bentuk barak militer namun dengan kelengkapan yang mewah dilengkapi kelab malam dan toko kebutuhan prajurit serba ada (Army Navy PX). Tenaga-tenaga sipil yang dipekerjakan selain warga negara Amerika, sebagian besar berasal dari Filipina sehingga Diego Garcia dapat berfungsi dengan sangat nyaman bagi para awak yang mendarat.

Selama pengisian bahan bakar, pimpinan operasi dan kru yang tidak bertugas, berkesempatan menikmati makanan hangat ala publik Amerika di kantin yang serba lengkap. Rombongan juga diajak meninjau PX mall untuk window shopping dan keliling pulau meninjau obyek-obyek R&R awak kapal yang serba lengkap dengan nuansa pantai seperti di Hawaii atau Bali.

Sambil menunggu waktu agar dapat mendarat di Rawalpindi menjelang tengah madam, kami empat selonjor melepaskan kepenatan. Lepas maghrib ketika cakrawala mulai gelap menjelang malam, dengan bahan bakar penuh dan lunch boxes serta snacks untuk makan di perjalanan, B707 lepas landas meninggalkan Diego Garcia, heading ke utara menuju daratan Asia Tengah dengan tujuan Rawalpindi. Duapertiga waktu perjalanan terbang di atas Samudera Hindia dan Laut Arab, akhirnya pesawat memasuki wilayah Pakistan dan mendarat di Rawalpindi menjelang tengah malam.

Kontak radio dengan menara pengawasan otoritas lalu lintas udara Pakistan terjalin dengan mulus ketika akan memasuki wilayah udara Karachi. Pesawat kemudian dipandu melintas ke utara menuju Rawalpindi.

Kurang lebih 100 nautical miles menjelang Rawalpindi, kontak radio dengan menara pengawas lapangan telah terhubung untuk dipandu melakukan pendaratan. Walaupun praktis tidak tidur nyenyak selama hampir 24 jam sejak proses pemuatan peti - peti bantuan, para penerbang mendaratkan pesawat dengan mulus di lapangan udara Rawalpindi di tengah keheningan malam. Pesawat dipandu oleh mobil "follow me" dari otoritas bandara menuju wilayah apron yang tersembunyi serta jauh dari keramaian.

Segera setelah mesin dimatikan, seorang petugas intelijen Pakistan melapor bahwa truk - truk pengangkut dan tim telah siap untuk membongkar dan memindahkan muatan. Dengan cepat, cermat, dan efisien, tim penerima (reception party) memindahkan muatan dari pesawat ke dalam truk - truk yang disediakan. Menjelang subuh, seluruh peti - peti bertanda palang merah bantuan obat-obatan dan selimut dari pemerintah dan rakyat Indonesia, telah berjajar rapi. Setelah semua persiapan dinilai selesai, rombongan bergerak ke barat laut dalam suatu konvoi yang panjang menuju Kota Badaber untuk diserahkan kepada pimpinan Mujahidin.

Kepada awak pesawat diberikan kesempatan untuk beristirahat di hotel berbintang empat di Rawalpindi. Mereka berhak mendapatkan proses pemulihan yang mewah sebelum tugas dan misi berikutnya dijalankan. Iring - iringan konvoi 20 truk dan satu jip pembuka dan penutup bergerak menyongsong fajar pagi ke barat menuju perbatasan Pakistan-Afghanistan. Setelah menempuh perjalanan darat melalui jalur - jalur jalan berbatu, sebelum tengah hari konvoi memasuki wilayah Afghanistan yang dikuasai para Mujahidin. Secara cepat dilakukan upacara sederhana penyerahan bantuan “obat-obatan dan selimut” untuk para pengungsi korban perang di Afghanistan.

Dengan lega, setelah penyerahan, dengan jip yang sama komando pimpinan operasi memutar arah keluar untuk kernbali ke wilayah Pakistan, menuju Islamabad. Menjelang malam hari rombongan menuju hotel International di Islamabad untuk selanjutnya melapor kepada pimpinan intelijen ABRI dan istirahat.

Pagi harinya pimpinan operasi didampingi dua perwira menengah BAIS di Rawalpindi dan petugas Alkomsus melaporkan kepada pimpinan intelijen ABRI tentang pelaksanaan Operasi Babut Mabur. Pada malam harinya pimpinan ISI Pakistan menjamu makan malam seluruh rombongan termasuk awak pesawat, yang dimeriahkan dengan malam kesenian tradisional tarian Pakistan sebagai ungkapan terima kasih dan berakhirnya kerjasama Operasi Babut Mabur.

Jam sepuluh pagi keesokan harinya, seluruh personel kembali ke Jakarta menumpang pesawat yang sama namun sudah dalam keadaan kosong melompong dan dijadikan tempat tidur selama perjalanan pulang langsung dari Islamabad ke Jakarta. Selain membawa seluruh personel Operasi Babut Mabur ke Jakarta, di sudut lorong badan pesawat, terdapat gulungan-gulungan karpet dari Pakistan yang terkenal mutunya sebagai kenang-kenangan sukseknya Operasi Babut Mabur.

Intelijen Itu Kepercayaan

Bangsa Afghanistan yang terdiri dari beberapa suku (tribes) dengan Pastun dan Dari sebagai suku terbesar adalah bangsa pejuang yang tidak pernah dikuasai penuh oleh bangsa manapun, termasuk Inggris ketika menjajah India dan Pakistan (Asia Tengah). Kegigihan rakyat pejuang Afghanistan, didukung oleh beratnya medan gunung dan bukit berbatu serta banyaknya gua - gua tempat persembunyian, membuat Afghanistan menjadi suatu medan perang gerilya yang ideal.

Seluruh wilayah Afghanistan ibarat suatu medan penghalang yang besar untuk menyatukan wilayah timur dan barat benua Asia. Ada dua jalan pendekat yang pada masa dahulu kala dijadikan jalur penghubung dan dikenal sebagai Jalur Sutera, yakni lembah yang memanjang dari Khyber Pass ke Kohat Pass. Melalui jalur ini seolah melalui jalur kematian karena dihadang oleh para gerilyawan dari bukit - bukit sekelilingnya. Oleh karena itu sandaran kekuatan utama pasukan Uni Soviet adalah kesatuan tank dan pesawat tempur / helikopter. Namun tekanan gerilyawan yang berkepanjangan dan banyaknya jumlah korban pasukan Uni Soviet yang tewas, pada akhirnya tahun 1992 Uni Soviet menarik mundur pasukannya dengan harus membayar mahal 13.310 anggota pasukannya terbunuh dan 35.478 anggota pasukan luka luka serta 311 pasukannya hilang dalam tugas (missing in action).

Pengalaman pahit pasukan Uni Soviet seperti mengulangi pengalaman pahit pasukan Amerika Serikan ketika harus mundur dari Vietnam dengan kerugian nyawa, harta, dan benda yang teramat besar dan menjadi beban bangsa. Mengenang Operasi Babut Mabur, Teddy hanya bisa berucap pelan bahwa keberhasilan operasi ini tidak lepas dari kehebatan badan intelijen ABRI saat itu. Meski tidak memungkiri nama besar LB Moerdani, Teddy juga memberikan apresiasi tinggi kepada perwira-perwira BAIS yang bermain di balik layar saat itu, mempunyai integritas tinggi dalam dunia intelijen. “Dunia intelijen membutuhkan kepercayaan’, tanpa itu tidak mungkin operasi seperti ini bisa dilaksanakan,” beber mantan navigator Tu16 Badger dan pemegang Bintang Sakti ini menutup perbincangan. 
 
 
 
 

Kemurahan Hati di Langit Perang Dunia II

 

  Seorang pilot Jerman menjunjung tinggi nilai kesatria dengan tidak menembak jatuh pesawat yang sudah terpincang karena berondongan peluru.

Banyak keajaiban terjadi saat Perang Dunia II (1935 - 1945). Satu di antaranya menyangkut pembom B-17 Flying Fortress yang dijuluki "Ye Old Pub".
Saat itu, sekujur badannya penuh lubang, terkena berondongan peluru, salah satu mesinnya mati, ekor, elevator, dan hidung nyaris hancur. Tinggal jatuh dari langit.
Tidak jauh dari sana, sebuah pesawat tempur Jerman Me-109 terbang di sampingnya, siap memuntahkan peluru terakhir untuk menjatuhkan B-17. Tapi apa disangka. "Saya tidak sampai hati menembaknya jatuh," kenang Frans Stigler, pilot Me-109 kepada Charlie Brown, pilot B-17 Ye Old Pub saat mereka bertemu 40 tahun setelah Perang Dunia II.

Hormat sesama pilot
Kala itu, Charlie Brown (21) berada di belakang kemudi B-17 dari 379th Bomber Group di Kimbolton, Inggris. Selain keadaan sekujur badan pesawatnya dirobek peluru dan flak, kompasnya pun rusak. Tanpa penunjuk arah ini, B-17 terbang terpincang, masuk lebih dalam ke wilayah musuh.
Begitu B-17 terlihat terbang melintas di atas lapangan udara musuh, pilot Luftwaffe (AU) Jerman Nazi, Frans Stigler, diperintahkan menyergap dan menembak jatuh. "Saya tidak pernah menjumpai pesawat begitu rusak masih bisa terbang. Ekor dan bagian belakangnya rusak berat, tail gunner luka, dan top gunner tewas dengan sekujur badannya terserak di atas badan pesawat. Bagian hidungnya hancur, sekujur badan pesawat penuh lubang peluru," kenangnya.
Meski Me-109 penuh peluru, Stigler tidak memuntahkan satu peluru pun. Sebaliknya, ia mendekati B-17 dan terbang di sampingnya sehingga bisa melihat Brown dengan jelas. Stigler membuat Brown ketakutan sambil berjuang mengemudikan pesawatnya.
Sadar Brown tidak tahu kemana arah terbang B-17, Stigler memberi isyarat dengan tangan untuk berbelok 180 derajat. Stigler kemudian menuntun pesawat Brown sampai sedikit melewati Laut Utara mendekati Inggris. Dia kemudian memberi hormat salut, membelokan pesawat, dan pulang ke pangkalan.
Setelah mendarat, Stigler bilang pada komandannya bahwa B-17 itu sudah ia lumpuhkan di atas laut. Lebih dari 40 tahun kemudian, tidak pernah ia menceritakan kejadian sesungguhnya.
Ia ditemukan kembali oleh Brown yang melakukan riset siapa penolongnya. Mereka bertemu saat keduanya berusia 80 tahun dalam reuni 379th Bomber Group, juga dengan lima awak Ye Old Pub lainnya. Mereka masih hidup karena Stigler tidak memuntahkan pelurunya ke B-17, jelang Natal, Desember 1943.
"Saya tidak bisa menembak mereka, itu sama saja menembak orang yang sedang bergelayutan dengan parasut," tegasnya.
Uniknya, Stigler dan Brown ternyata hanya terpisah sekitar 321 kilometer satu sama lain pasca-perang. Stigler di Vancouver, Kanada, sedangkan Brown di Seattle, Amerika Serikat. Keduanya meninggal pada tahun sama, 2008. Frans Stigler wafat lebih dulu pada 22 Maret, Brown menyusul pada November.
*Kisah ini disadur dari artikel Majalah Commando Edisi No.2 Thn VIII 2012 dengan judul asli Saya Tidak sampai Hati Untuk Menembak Jatuh.

Kamis, 01 Agustus 2013

DIALOG DENGAN XANANA GUSMAO





 


Xanana Goesmao tertangkap pada hari Kamis tanggal 20 November 1992. Pada hari Jumat tanggal 21 November 1992, Panglima ABRI dan rombongan berangkat dari Jakarta ke Dilli Timtim untuk melakukan inspeksi atas keberhasilan Kodam IX Udayana menangkap Xanana Goesmao hidup hidup. Setelah mengadakan inspeksi dan melakukan penilaian strategis, Panglima ABRI memutuskan agar Xanana Goesmao dibawa ke Denpasar untuk dilakukan investigasi di Markas Kodam IX Udayana.
Oleh Pangdam IX Udayana Mayjen TNI Soewardi, pelaksanaan investigasi diserahkan kepada Dan Pomdam IX Udayana Kolonel CPM Nurhana, dibantu oleh tim investigator dari Sintel Kodam IX Udayana dan tim investigator dari Satgas intel Kolakops.
Panglima ABRI memerintahkan kami harus berdialog, berdiskusi, negoisasi dengan Xanana Goesmao agar paling lambat 7( tujuh ) hari harus sudah didapat pernyataan politik secara lisan dan tertulis dari Xanana Goes mao, yang isinya sebagai berikut:

1. Mengaku bersalah atas tindakan makar/pemberontakan yang dilakukannya terhadap pemerintah RI.

2. Meminta maaf atas kesalahannya.

3. Menyatakan Pro integrasi dengan NKRI.

Pernyataan politik ini untuk mengcounter kecaman PBB kepada pemerintah RI atas tuduhan pelanggaran HAM di TimTim dan rencana penjatuhan sanksi dalam Konperensi Komite HAM PBB pada bulan Desember 1992.

Hanya pernyataan dari Xanana Goesmao sebagai Panglima Perang Pemberontak yang dapat menggagalkan penjatuhan sanksi dari PBB tersebut….

Berdialog dengan seorang Panglima Pemberontak yang dikenal sangat tangguh, pantang menyerah, tidak mengenal kompromi….. untuk mencapai persamaan persepsi tentang situasi politik national, regional dan internasional yang sedang terjadi dengan akal sehat dan hati nurani yang bersih, bebas dari rasa dendam dan angkara murka, sehingga ditemukan solusi yang terbaik bagai kedua belah pihak, bukanlah hal yang mudah……

Secara logika, tidak mungkin Xanana mau menandatangani pernyataan mengaku bersalah, minta maaf dan pro integrasi, apalagi membacakannya didepan televisi Nasional keseluruh penjuru dunia….

Ini adalah suatu tugas diluar logika….menembus batas logika….

Tapi saya selalu yakin akan ……”Lahauwla wala kuwata, illa billahil aliyil adzim…”..Tidak ada kekuatan apapun yang menyamai kekuatan Allah dan…” Inamaa amruhu idza aradaa syaan anyakullalahu qun faya qun”…..Sesungguhnya bila ALlah menghendaki sesuatu terjadi, maka terjadilah….

Dua ayat suci dari Al Qur’an tersebutlah yang menjadi andalan saya melakukan berbagai tugas militer yang berada diluar jangkauan logika manusia….sejak tahun 1968….Sejak saya berdialog dengan Bung Karno ditempat penahanan politiknya di pavilyun istana Bogor, dimana selama beberapa bulan saya menjadi komandan pengawalnya dan menyaksikan sendiri, bagaimana seorang founding fathernya bangsa Indonesia, seorang Proklamator, seorang Presiden yang sangat berkuasa pada zamannya, bisa duduk berdua dengan saya tanpa kekuatan apapun hanya sebagai tahanan saya…Dari situ saya menyadari bahwa kekuasaan manusia tidak ada yang abadi… nothing last for ever…

Karena itu selama saya bertugas sebagai Komandan Polisi Milter, sebagai penegak hukum dilingkungan ABRI, kewenangan dan kekuasaan saya yang berkaitan dengan nasib seseorang, selalu berorientasi, berprinsip bahwa semua yang saya lakukan harus dalam rangka ibadah, dalam rangka mengabdi kepada Tuhan JME, Allah SWT, bukan untuk kepentingan pribadi saya mencari jabatan, pangkat, apalagi kekayaan materi…

Apa yang saya tuliskan disini, pada masa Orde Baru adalah rahasia besar, yang tahu hanya beberapa orang penting dilingkungan pemerintahan RI, Panglima ABRI, pimpinan Bais, Kasad, Pangdam dan Pangkolakops Tim Tim….tentunya Xanana Goesmao sendiri sebagai pelaku sejarahnya…..

Baru sekarang saya berani tulis, itu juga karena saya merasa tidak nyaman karena ada pengamat militer di Indonesia yang apriori terhadap pelatihan kecerdasan Emosional dan Spiritual yang dilakukan oleh ESQ 165 LC terhadap para calon pimpinan di jajaran TNI AD…….

Padahal banyak purnawirawan Jendral TNI, termasuk mantan KASAD Jendral TNI Soebagyo HS, ikut pelatihan ESQ dan sekarang menjadi Ketua Forum Alumni ESC 165 LC Daerah Jakarta Raya….Karena menyadari betapa bermanfaanya ESQ Quotient tersebut…

Karena itu selama memimpin investigasi, saya harus menekan ego saya sampai ketitik nadir, ketitik nol.. ……..karena secara hakiki, saya ini bukan apa-apa dan tidak punya kekuatan apapun tanpa idzin Allah SWT…..

Semua kebijaksanaan saya, tindakan saya dalam melakukan investigasi dan dialog, harus selalu berprinsip dalam rangka pengabdian kepada Allah SWT,

Inilah modal utama kekuatan mental saya memimpin tugas ini….

Proses investigasi/dialog dengan Xanana Goesmao

Hari pertama: ( Proses saling mengenal dan mengukur kekuatan masing masing…….)

· Pada hari Saptu tanggal 22 November 1992, sekitar jam 10.00 pagi, Xanana Goesmao tiba di Markas Pomdam IX Udayana, di JL Raya Renon Denpasar Bali dalam keadaan kedua tangan diborgol, dibawa oleh Asintel Kasdam IX Udayana Kolonel Infanteri Soentoro, dikawal oleh tim Satgas Intel Kolakops Timtim.

· Pada saat itu juga, langsung dilakukan serah terima tanggung jawab tahanan dari Dan Satgas Intel Kolakops Timtim ke Dan Pomdam IX Udayana. Asintel Kodam IX Udayana dan para pengawal Xanana jam 10.30 meninggalkan Ma Pomdam. Saya bawa Xanana kedalam ruang kantor kerja saya dan kemudian borgolnya saya lepas.

· Mengingat Xanana adalah bukan murni seorang penjahat perang atau criminal sejati, tapi dari kaca mata PBB dia adalah seorang pejuang kemerdekaan rakyatnya yang secara politik berlawanan dengan pemerintah RI, saya bersumpah dalam hati bahwa saya akan melaksanakan perintah pimpinan tertinggi ABRI tanpa keluar dari falsafah Pancasila dan hukum Allah SWT.

· Kondisi fisik Xanana Goesmao saat itu tampak lelah dan sakit. Tubuhnya kurus, rambut, janggut dan kumisnya dalam keadaan panjang dan tidak rapih. Tapi sorot matanya tetap masih sangat tajam seperti mata seekor macan. Dibalik sorot matanya yang tajam menghunjam jantung, tersirat rasa marah, dan dendam membara…..

· Saya kagum atas sikap mentalnya yang masih sangat menjaga martabatnya sebagi panglima perang pemberontak fretilin yang tidak mau kompromi, tidak mau menghianati perjuangan rakyatnya, tidak mau menghianati ideologinya dan siap untuk dibunuh.

· Saya yakin, hanya kekuatan Allah SWT yang bisa mengalahkannya. Karena itu saya harus betul betul bertugas sesuai dengan prinsip prinsip Asmaul Husna. Saya harus berserah diri kepada Allah SWT dengan prinsip: “ Lahaula wala kuwata illa bilahil aliyil adzim”. Dengan cara inilah enerji Illahi akan muncul membantu kekuatan batin saya mengahadapi kehebatan kekuatan batin Xanana Goesmao.

· Waktu saya ajak bicara dalam bahasa Indonesia, Xanana Goesmao pura pura tidak bisa berbahasa Indonesia. Hanya mau bicara dalam bahasa Inggris atau bahasa Timor.

· Sikap Xanana pada saat itu masih sangat keras, penuh percaya diri , menantang dan konfrontatif. Kalau ditanya sesuatu, jawabannya selalu pendek: “ Dont ask anything, I will not do anything you ask!, … I am ready to die!” .

· Untuk menenangkan dirinya, saya berusaha bersikap ramah dan bersahabat. Saya katakan padanya: “Don’t be angry. I am not your enemy, I am doing my task, my job tobe a military police commander that obey to the national and International law. You are safe in my hand. I do not receive order to kill you. I did not receive order to force you to make a statement that you do not agree. Be relaxe please, enjoy your self. I will treat you the best I can. My president ordered me to safe your life. You will not send to my office if you are ready to be executed. I am ordered to discuse with you what is the best solution to finish the war between Indonesian army against your army. We will discuse for our better cooperation”.

· Selama sekitar beberapa menit kami bertatapan mata tanpa berkedip dan berbicara sepatahpun, kami berdua berdiam diri sama sama mengukur kekuatan batin masing masing. Setelah situasi tegang mencekam berjalan lebih dari satu menit, sorot matanya mulai melunak. Kemudian saya tersenyum dan berkata padanya: ” I now your magic power, but you do not know mine! You will not able to conquer me! We are friend, be calm, be relaxe please! Don’t fight against me. I do not afraid with you, though you are very strong in your magic power. Don’t dream that you will be able to run away, to fly away from me! I can control your powerful magic power! But you don’t be afraid with me. Ok?”.

· Xanana agak kaget melihat saya tidak gentar, kelihatan kepercayaan dirinya langsung anjlok turun. Saya bersyukur dalam hati.

· Saya bersukur kepada Allah SWT diberi kesempatan membuktikan bahwa “La haula wala kuwata illa bilahil aliyil adzim” itu benar adanya.Bahwa pada saat kita bisa total berserah diri kepada Allah SWT, maka Alah akan mengambil alih semua masalah yang kita hadapi. Allahu Akbar!

· Untuk menghindari terjadinya salah tangkap atau salah menyerahkan tahanan, Jam 12.00 Dan Pomdam memerintahkan para tahanan kasus 12 November Dilli yang ditahan di Mapomam IX Udayana untuk bertemu dan melihat langsung dari dekat Xanana Goesmao dan mengklarifikasi apakah orang tersebut betul betul Xanana Goesmao yang asli.

· Ternyata sebagian dari mereka yang asli orang Timtim, mengenalnya dan mengatakan bahwa yang diserahkan dari Satgas Intel Kolakops Timtim itu betul Xanana.

· Mereka menambahkan, kalau tidak yakin, lihat saja nanti, pasti akan turun hujan lebat dan kilat menyambar. Itulah kehebatan Xanana. Biasanya kalau didaerah operasi Timtim, Xanana terus menghilang dan tidak bisa ditangkap. Mereka berpesan agar extra hati hati. Apalagi Xanana terkenal dengan kehebatan dan kesaktiannya dalam memimpin perang gerilya melawan pemerintah RI tanpa bisa ditangkap.

· Betul saja, sekitar jam 14.00, tiba-tiba turun hujan lebat bercampur petir disekitar Markas Pomdam IX Udayana. Hujan turun sangat lebat sehingga pelataran parkir Ma Pomdam IX Udayana sempat banjir selama hujan. Melihat itu, kemudian saya menemui Xanana yang masih berada diruang kerja Dan Pomdam untuk menetralisir keadaan dan melakukan dialog pendahuluan, tapi masih belum satu frequensi, belum nyambung….

· Jam 20.00, saya/Dan Pomdam pulang kerumah intuk istirahat, sholat hajat mohon petujuk Allah SWT, dilanjutkan dengan wirid/zikir tanpa tidur sama sekali……..

Hari kedua: ( Proses brain washing dan character building)

· Jam 0900 Xanana mulai resmi diinterogasi oleh tim investigasi yang dipimpin oleh saya/Dan Pomdam. Xanana diperintahkan mengisi check list dan menjawab berbagai pertanyaan dalam rangka penyelidikan. Xanana diminta menjawab pertanyaan sesuai kemauannya sendiri, tidak ada pemaksaan apapun.

· Melihat sikap para investigator terhadapnya yang sangat sopan dan manusiawi, hati nuraninya Xanana menjadi tersentuh. Sikap angkuh, menantang dan tak mau komprominya mulai luntur. Dia mulai terpengaruh kekuatan Asmaul Husna. Lambat laun mau menjawab pertanyaan lisan dengan panjang lebar dengan seluruh argumentasinya.

· Walau Xanana sudah mau berkomunikasi dengan investigator yang berusaha menyelidiki jaringan klandestinnya, Xanana tetap tidak mau membuka rahasia jaringannya di Timtim. Para investigator tetap sabar dan berkomunikasi dengan santai dan ramah. Sore harinya, Xanana sudah mau tersenyum kalau ada topik yang lucu. Watak aslinya yang sebenarnya humanis dan ramah mulai nampak walau tetap dia tutupi untuk memelihara wibawanya.

· Setelah seharian penuh dari pagi sampai sore melakukan investigasi, berdialog, Xanana diizinkan istirahat dan diperiksa kesehatannya oleh dokter dari Kodam IX Udayana. Ternyata memang Xanana sedang mengidap suatu penyakit dan kami obati dengan baik.

· Xanana Goesmao diperlakukan sangat manusiawi…Saya berusaha menembus dan menyentuh hati nuraninya, sehingga kami bisa berdialog lepas dari berbagai paradigma negative thinking……suatu dialog yang dibimbing oleh Asmaul Husna, bukan dipengaruhi oleh ego masing masing yang dipengaruhi nafsu duniawi…..

· Jam 21.00 saya pulang kerumah untuk mandi dan istirahat. Sholat wajib dab sholat hajat dilanjutkan zikir.

· Pada saat zikir, sekitar Jam 23.00 malam, saya mendapat firasat berupa petunjuk dari alam bawah sadar saya, yaitu seperti ada cahaya petir menyambar dan sebuah tulisan Xanana!.

· Saya segera terbangun dari meditasi dan segera tilpun penjaga sel tahanan Xanana untuk minta laporan tentang kegiatan Xanana. Jawabannya enteng saja: “Keadaan aman, Xanana sedang duduk duduk santai diatas tempat tidurnya, sambil menghitung buku jarinya”. .

· Saya kaget dan segera mengeluarkan perintah: “ Segera ganggu, ajak bicara, kasih minum kopi! Xanana sedang meditasi dan membacakan manteranya!” Mendapat perintah tersebut, penjaga langsung megajak Xanana bicara, main kartu dan minum kopi.

*
Kemudian saya segera menemui Xanana ditempat penahanannya di Markas Pomdam. Begitu ketemu dengan saya Xanan langsung marah dan berkata: ” I know this is the new face of my life !!!…I am ready to die !!! (Xanana menyangka dia malam itu akan dieksekusi mati…oleh saya….) ..

· Saya/Dan Pomdam kaget dan balas bertanya: “Why do you so angry with me?”

· Xanana menjawab: “ I am angry because your member always bother me, many times ask me something, another time give me coffee, another time give me cigarette, I have no time to concentrate!!!”

· Saya/Dan Pomdam balik bertanya: “ What are you doing about 11 o clock PM to night?

· Xanana jawab: “I do nothing, I was praying”.

· Saya lanjutkan lagi: “I know that you try to contact your teacher in Timtim!”

Kami berdialog, berdiskusi panjang lebar sekitar 4 jam, mulai jam 12 malam sampai jam 4 pagi nonstop.

· Saya jelaskan bahwa kebijakan politik luar negri pemerintah Indonesia adalah anti kolonialisme dan imperialisme, anti penjajahan dalam segala bentuk dan manivestasinya.

· Pemerintah Indonesia tidak punya ambisi politik luar negeri untuk melakukan invasi, karena wilayah kekuasaan NKRI itu sudah sangat luas dan memiliki sumber daya alam yang berlimpah. Apa untungnya melakukan invasi ke Timtim yang daerahnya sangat miskin?

· Disamping pemerintah Indonesia berkepentingan melindungi rakyat Timtim yang dibantai oleh kelompok komunis Fretillin…( catatan:..sekarang, setelah Tim Tim merdeka, terbukti bahwa Partai Fretilin yang dipimpin Mari Alkatiri, mantan Perdana Menteri Timor Leste memusuhi Xanana Goesmao )….

· Pemerintah Indonesia juga didesak oleh pemerintah Amerika Serikat agar membendung gerakan komunisme di Timtim. Pemerintah Amerika Serikat trauma akibat kekalahannya di Vietnam Selatan pada tahun 1975.

· Untuk itu, kemudian pada tahun 1976 Menteri Luar Negri AS Henry Kissinger menemui presiden Soeharto, mendesak agar pemerintah Indonesia membantu rakyat Timtim mengusir komunisme dari Timtim.

· Jadi kepentingan pemerintah Indonesia adalah membendung hegemoni komunisme internasional di Asia Tenggara.

·

· Kelihatannya saya telah berhasl berdialog dengan hati nuraninya….

· Dengan demikian saya telah yakin bahwa masalah pernyataan politik Xanana Goesmao untuk pro integrasi yang diminta presiden Soeharto, hanya tinggal masalah waktu saja.

· Karena itu sekitar jam 04.00 pagi saya pamit pulang. Betul saja, Xanana menahan saya agar jangan pulang dulu, karena belum membahas masalah MOU yang mau dibuat.

· Pucuk dicinta ulam tiba! Begitulah kata hati saya waktu Xanana menanyakan soal MOU. Tapi saya jawab: “ We had already discuss our problem all night long, more than 4 ours! I think we are very tire, we can not think clearly anymore. Its better we are going to sleep now, tomorrow we continue our discuss!”

· Sampai dirumah langsung saya shalat subuh dan sujud syukur dan berdua: ” Ya Allah, demikian besar cinta kasihmu kepada umatmu, kepada kami berdua, saya dan Xanana Goesmao. Telah kau izinkan Asmaul Husna merasuk kedalam hati sanubari Xanana Goesmao, sehingga dia sadar bahwa selama ini dia telah disesatkan oleh ajaran komunis yang anti Tuhan. Kau telah izinkan kata kataku diterima oleh akal sehatnya. Permudahlah tugas saya besok, untuk mendapatkan pernyataan politik dari Xanana yang bermanfaat bagi pemerintah dan rakyat Indonesia, bagi rakyat Timtim yang menderita, bagi Xanana Goesmao yang telah kembali kejalan Allah. Telah menyadari bahwa Fretillin yang komunis itu adalah musuh sebenarnya dari rakyatnya, rakyat yang dicintainya, amin ya robul alamin!”.

· Selesai shalat dan zikir, saya terus olah raga pagi dan mandi air hangat agar segar. Saya masih tetap bertahan tidak tidur sampai tugas selesai. Rasa kantuk bisa dikalahkan oleh konsentrasi fikiran untuk menyelesaikan tugas.

Hari ketiga dan keempat ( Proses perebutan sasaran akhir dan konsolidasi…)

· Sekitar jam 09.00, Letnan Kolonel CPM Soegianto, Dan Denpom Denpasar yang saya tugasi untuk selalu mendampingi dan memantau seluruh keperluan Xanana di tahanan, lapor bahwa Xanana ingin ketemu saya, karena Xanana sudah tidak tahan tinggal didalam kamar tahanan dan ingin bekerjasama untuk membuka seluruh rahasia jaringan klandestin/gerilya bawah tanah di Timtim dan memanggil seluruh pasukannya agar turun dari hutan dan gunung.

· Saya segera laporkan perkembangan baru dari sikap Xanana tersebut langsung kepada Pangdam IX Udayana. Beliau memberi arahan bahwa sudah tiba waktunya untuk menyiapkan pernyataan politik Xanana Goesmao sesuai permintaan presiden Soeharto.

· Semua dilapori perkembangan sikap Xanana yang terakhir dan diminta datang oleh Pangdam IX Udayana ke Markas Pomdam IX Udayana di Denpasar Bali untuk merumuskan bentuk, isi dan cara mendokumentasikan pernyataan politik Xanana yang akan diserahkan kepada presiden Soeharto nantinya. Sekitar jam 15.00 semua perwakilan sudah berkumpul di Ma Pomdam IX Udayana.

· Dari Bais ABRI rombongan dipimpin oleh Brigjen TNI Farid Zainudin, Dan Sat intel Bais ABRI. Dari Kolakps diwakili oleh Dan Satgas Intel Kolakops. Dari Kodam diwakili oleh saya sendiri/Dan pomdam sebagai tuan rumah, Asintel dan Kapendam.

· Hampir semuanya kaget dan tidak percaya sebelum mendengar langsung dari Xanana Goesmao. Kemudian diadakan pertemuan antara mereka dengan Xanana Goesmao di kamar tahanannya yang memang cukup luas. Mereka dipersilahkan bertanya sepuasnya kepada Xanana. Xanana menjawab dengan santai, sambil tersenyum dan tertawa tawa, menyatakan bahwa beliau sudah menyadari kesalahannya, minta maaf dan pro integrasi.

· Sekitar jam 19.00 Pangdam IX Udayana memberikan petunjuk pengarahan untuk pembuatan dokumentasi pernyataan politik Xanana Goesmao sesuai perintah Panglima ABRI. 

· Pelaksanaan pembuatan dokumen pernyataan politik Xanana Goesmao dilakukan di Markas Pomdam IX Udayana sekitar jam 21.00 s/d 22.00. Xanana pada saat menyampaikan pernyataan politiknya, direkam video recorder Kapendam.

· Pada saat rekaman, Xanana didampingi saya disebelah kanannya dan Asintel Kodam Kolonel Infanteri Soentoro disebelah kirinya.

· Pada jam 23.00 Xanana dengan diborgol ditangan saya, dikawal anggota Bais ABRI, diterbangkan ke Jakarta dengan pesawat khusus jenis Hercules milik Angkatan Udara untuk diserahkan kepada Bais ABRI.

· Tiba di Markas Bais ABRI, langsung dimasukan kedalam kamar tahanan yang dijaga anggota Bais ABRI. Kemudian saya melakukan serah terima tahanan dengan Brigjen Hendropriyono, Direktur A Bais ABRI.

· Pada saat serahterima, pak Hendropriyono tanya kepada saya: “ Bang bagaimana caranya seorang Xanana Goesmao yang terkenal sangat ganas, kok bisa dirubah menjadi jinak hanya dalam 3 hari saja?” ( Pak Hendropriyono adalah yunior saya di AMN. Saya lulusan 1965, beliau 1967).

· Saya jawab singkat: “ Semua atas petunjuk dan idzin Allah semata…La hawla walla uwata illa billahil aliyil adzim…Tidak ada yang menyamai kekuatan Tuhan….Innama amruhu idza aradaa, syaan ayakulllalahu qun faya qun…Sesungguhnya bilamana Allah menghendaki sesuatu terjadi, maka terjadilah, tidaka da yang bisa menghalanginya ……….”

· Beliau tersenyum sambil berkata: “ OK kalau begitu, terima kasih atas keberhasilannya berdialog dengan Xanana, tolong bantu doa agar kami berhasil juga menindak lanjuti hasil yang telah dicapai”. Kami bersalaman, selanjutnya saya pamit untuk pulang ke hotel tempat kami menginap di Jakarta.

· Sore keesokan harinya, saya sampai di Denpasar Bali dan segera lapor kepada Pangdam IX Udayana bahwa tugas menyerahkan Xanana Goesmao ke Bais ABRI sudah selesai dengan aman. Panglima ucapcan terima kasih.

· Malam itu barulah saya bisa tidur dengan nyenyak, membayar semua kelelahan dan kantuk saya selama tiga hari tiga malam.

Pernyataan politik Xanana Goesmao yaitu: “Mengaku bersalah, Minta Maaf dan Pro Integrasi”, ditayangkan ditelevisi RI dengan sedikit perubahan dari rekaman aslinya di Denpasar Bali.

· Tentu saja tayangan pernyataan politik Xanana Goesmao tersebut sangat mengagetkan dunia internasional. Mereka sama sekali tidak percaya dan minta klarifikasi langsung dengan Xanana Goesmao di Jakarta.

· Setelah petugas dan pejabat dari PBB dipertemukan dengan Xanana dan hasilnya sama, mereka lebih kaget tapi terpaksa harus mempercayai dan mengakuinya.

· Pernyataan politik Xanana Goesmao telah menyelamatkan pemerintah Indonesia dari sanksi Komite HAM Internasional PBB yang semula akan dijatuhkan pada Konferensi Komite HAM Internasioal di Jenewa bulan Desember 1992.

· Mungkinkah seorang Xanana Goesmao, seorang Panglima Perang Pemberontakan Timtim yang telah berperang dihutan selama 16 tahun melawan pemerintah RI tanpa pernah menyerah, dapat dirubah 180% menjadi pro pemerintah RI dalam waktu hanya 3 hari, hanya karena keahlian/profesionalitas para investigator dari Kodam IX Udayana?……imposible!

· Semua bisa terjadi hanya karena ada campur tangan aktif dari Allah SWT, munculnya enerji Illahi…….pada saat para investigator berserah diri, hanya berprinsip mengabdi kepada Allah SWT dan menekan Egonya sampai titik nol…..Lahawla wala kuwata illa billahil aliyil adzim…..Tidak ada kekuatan apapun yang menyamai kekuatan Allah..

· Maka terjadilah: Innama amruhu idza aradaa, syaan an yaa kullalahu qun vaya qun….. bilamana Allah menghendaki sesuatu terjadi, maka terjadilah…siapa yang sanggup melawannya?….

· Semoga Xanana Goesmao masih ingat semua peristiwa dialog yang saya ceritakan ini dan tetap seperti Xanana Goesmao yang saya kenal dulu, yang bisa berdialog menggunakan hati nurani yang dalam, yang telah mengantarnya kepada kebebasan, menjadi presiden dan perdana menteri Timor Leste…

· If Your Exelency Mr. Prime Minister Xanana read this my untold story through the internet, I want to say: “I send my best regards and congratulation to be the Prime Minister of Timor Leste…..I believe that you will be able to handle the problem of your nation….And if you still remember our commitment in Denpasar Bali in November 1992, that we will commit to build a good relationship between us ( you and me )….Now I ask your help, to clean my government, espessialy Mr.General Wiranto from the bad and wrong issue about massacre after Referendum ini TimorTimur few years ago….Belieme me, he is clean!…Thanks…God will be with you always…(If you forget me, please look at the portrais of us when we was in a spiritual dialog at my office in Denpasar Bali….in my weblog: www.tirtaamijaya.wordpress.com)”

· Akhirnya, kepada siapapun yang membaca tulisan ini, yakinlah bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang berbudi luhur, menghargai dan menjunjung tinggi hak azasi manusia…karena itu, marilah kita bersatu padu membangun Generasi Emas tahun 2020….berlandaskan Pancasila dan UUD 1945 secara murni dan konsekwen……amin ya Robbul

sumber:
KOL CPM Purn H. NURHANA TIRTAAMIJAYA
KASKUS

Sabtu, 13 Juli 2013

Tank TOS-1





TOS-1 adalah Tank yang di mana diperuntukkan untuk memperkuat serangan pada invantri. Perangkat ini dirancang untuk melibatkan personil militer dalam mengoperasikan tank tersebut. system TOS-1 ini tak ubahnya seperti peluncur rudal biasanya hanya saja TOS-1 ini dibuat dengan mengandalkan chassis body tank T-72 yang di modifikasi bagian atasnya.

TOS-1 menggunakan rudal dengan hulu ledak thermobaric yang dapat menyebabkan ledakan besar. rudal ini paling cocok untuk menghantam bunker-bunker musuh karena daya hancurnya sangat tinggi . TOS-1 memiliki daya tembak dengan rentang minimum 400 meter dan rentang maksimum 3,5 km dengan daya alokasi tembakan target 200 x 400 meter persegi.

TOS-1 ini dibuat dari casis Tank T-72 dengan berlapiskan baja ringan dengan bermesin diesel V-84-1 mampu berlari dengan kecepatan 840 tenaga kuda. Tos-1 ini di kembangkan pada awal tahun 1980 yang berhasil digunakan Unisoviet dalam perang di Afganistan dan yang paling terbaru digunakan pihak rusia dalam menginvasi Checnya.

TOS-1 ini di sering di panggil "Buratino" yang dimana cocok dengan nama pahlawan film dari Rusia versi Pinocchio karya alexy telstoy, karena besar hidung dari pada peluncurnya/ badan.
 
SPESIFIKASI
 
Bobot : 46 t (101,411 lbs) 46 t (£ 101.411)
Panjang: 9.5 m (31 ft) 9,5 m (31 ft)
Lebar : 3.6 m (11.81 ft) 3,6 m (11,81 ft)
Ketinggian: 2.22 m (7.28 ft) 2,22 m (7,28 ft)
Jumlah Kru : 3 orang
Designer: Omsk Transmash Design Bureau Omsk Transmash Biro Desain